O.K. MONOPLANE


Days roll at irregular pace
October 30, 2009, 11:59 pm
Filed under: Personal, Thoughts

Dilla & Ahtar and no, they're not a couple.

What I still haven’t found three months after moving to this town is stability. My basic principle for life so far is to “view everything as neither right nor wrong”, and when those words helped me at times to stay neutral at morality problems, in some other ways it also sent me lost in the flow of a busy undergrad student’s life. I can’t seem to find a learning style that fit, not yet. My priorities are scrambled up, my ability to focus falls low under the normal line, my long-lost empathy for loving and giving… stays lost. And my room is always a huge space of mess I can’t help tidying up, literally.

All I have to hold on to is myself.

My life is an arrhythmia
for now.



Beberapa bulan di kota kembang dengan SAPPK
October 18, 2009, 12:52 pm
Filed under: ITB, Personal


Ólafur Arnalds – 3055
dengarkan sambil baca!

Beberapa minggu terakhir ini kepala gue lagi kosong banget buat ngisi sesuatu yang bagus di blog ini jadi setidaknya gue memperbaharui berita seputar kehidupan Bandung sajalah yaa, ngebales tulisan temen gue si Dayat sial yang menulis sewenang-wenang tentang hidup gue tapi jadi kayak numpang promosi gapapa lah ya hahaha, dan jangan protes kalo tulisan ini berbahasa Indonesia karena hidup gue sedang cukup menyenangkan dan gue lagi gak mau banyak mikir. Oke, gue UTS tiap Jumat dan itu sangat bikin mikir sebetulnya (stres tingkat tinggi) tapi di luar masalah pelajaran, hari-hari gue beneran nikmat disini.

Jadi sekilas hidup gue sekarang gue anggep menyenangkan karena banyak temen baru gue di SAPPK ITB 2009 yang asik, dan gue mulai percaya kalo psikotes kayanya emang ngaruh buat masuk ITB karena anak-anak per fakultas secara keseluruhan nampaknya emang memiliki sifat yang mirip-mirip, seperti SAPPK yang dipenuhi para wanita yang kalem-tapi-aslinya-cacat dan para pria berperilaku baik-baik idaman mertua huahahaha. Dan salah satu temen baru gue yang asik bernama Rizky Ardian Hidayat, biasa dipanggil Dayat (iya kampung emang gue tau) dan berasal dari SMA 78 Jakarta, dia orangnya berisik dan selalu punya komentar tentang perilaku orang, sering nyanyi-nyanyi dengan lirik sepotong-sepotong yang diulang-ulang dan salah macem “sooo, Sally to say…” udah diulang mulu, gak pernah bener lagi. Tapi kalo udah megang BBnya langsung ansos mode on dan tidak peduli dunia luar lagi, hati hati BB menyerap nyawa Anda juga.

Dari luar anaknya emang menyenangkan, tapi begitu masuk kamar kosnya… naujubilahminzalik. Kamarnya berbentuk huruf L dan berukuran cuma se-gang yang mini, tapi sebetulnya itu gak masalah, yang masalah itu isinya… cemilan berantakan, piring-piring kotor berserakan, popmie tinggal sisa kuah tapi gak dibuang-buang (SERIUSAN), buku dimana-mana, ikan-ikan menggelepar kekurangan air, dan kalo mau jalan dengan aman kita harus pake enggrang biar gak nginjek barang-barang. Oke yang dua terakhir lebay tapi emang seberantakan itu.

Ngomongin popmie, dia ini punya stok popmie yang sangat banyak dan dengan seringnya makan mi berkali-kali dalam seminggu, membahayakan jiwa dan raga (otak) memang tapi tetep aja bisa masuk ITB ckckck. Dia juga gak doyan makan daging, bukan karena vegetarian tapi karena emang gak doyan aja, soalnya dia masih bisa makan sebangsa sosis dan makanan anak kecil lainnya. Makan sama dia selalu asik karena yang daging-dagingnya selalu dikasih ke orang lain, atau lain kata perbaikan gizi tanpa mengeluarkan uang hahahaha. Makan batu aja deh lo biar gak repot. Kalo penasaran yang mana orangnya, ini dia…

Bukan, orangnya bukan yang kiri. Fadhil yang kiri, Dayat yang kanan. Dia sedang menjomblo jadi kalo tertarik langsung hubungi saja ke blognya hahaha soalnya dibalik semua yang tadi gue sebutin, Dayat adalah teman yang selalu bikin rame, baik, berbakti kepada orangtua (rajin pulang) dan sering menabung… gak juga sih dia ngabisin duit dengan makan berkali-kali sehari. Dan si Fadhil sebelahnya, dia juga salah satu anak SAPPK, berasal dari SMA 28 Jakarta dan orangnya hobi bermain gitar buat pacarnya (“tipe gue cewek yang berisi”) dan mukanya sangatlah datar tapi pinter kalo masalah fisika. Dia hobi nunjukin foto-fotonya sama pacarnya — dan bikin desperet temen-temennya yang jomblo — termasuk video pas dia nembak pacarnya. Oh dan dia sangat sering boker, dikit-dikit nyari toilet pengen boker. Pencernaannya terlalu bagus mungkin.

Selain dua ini masih banyak lagi kawan saya di SAPPK ITB ‘09, macem Caca anak Tarnus yang kalem dan dibilang terganteng se SAPPK, Keweh & Joko dua anak Surabaya yang ngajarin boso jowo nggak bener, Oka si Bali Jakarta yang pernah jadi anak liar di Papua, Eka sang ketua cakru LFM, Byna yang pacarnya jauh di mata tapi ehem ehem sama Ayas yang kisah cintanya sungguh tragis, Ghina yang selalu minta disetirin mobilnya kalo ada yang bisa nyetirin, Faika si Widi Vierra yang selalu ceria kecuali pas hpnya baru ilang 2 kali (tabah ya fai) Tantha temen SMP gue yang semua orang ngeliat pertama bilangnya “pendiem” tapi seiring waktu mereka menyadari kalo dia diemnya pas megang BB doang, Dilla yang hopeless romantic *toss* dan meluk bantal lebahnya kalo lagi suram, Fadhila yang susah dipanggilnya karena ada Fadhil dan Dilla jadi mesti “Fad, Fad”, Wina yang memanfaatkan pacarnya yang anak NTU buat ngerjain tutor, Samia yang kerudung-kerudung biang klabing (orang-orang pada stres banyak tugas dan UTS dia malah begajulan malem-malem), Ica yang sering ngelupain barangnya dimana-mana tapi berotak pinterrrr, Aya yang selalu memikat mata para pria *prikitiw* tapi oh itu hanyalah tampilan luarnya saja. Dan ah, tentunya Ahtar yang hidupnya lagi super sial dan Echy si upil baru potong rambut yang hidupnya sedang sangat labil penuh air mata (sabar yea tar, cis) yang keduanya temen SMA gue. Gue mulai pegel nulisnya, dan masih banyak lagi tentunya para mahasiswa SAPPK yang menyenangkan, dan masih banyak lagi kepribadian yang bisa digali dan kehidupan yang bisa didalami, jadi… sampai bertemu di tulisan berikutnya!

sebagian kecil mahasiswa SAPPK berbasis Jakarta, sedang berkumpul di Senci

biarpun hidup saya penuh, namun di dalam jiwa dan hati masih tetap kosong. tidak apalah!



One raining thursday afternoon
October 8, 2009, 4:28 pm
Filed under: Uncategorized

Alone in my room, I now realize that however fun this new life is, loneliness is loneliness.



Words; #2
September 26, 2009, 11:21 pm
Filed under: Personal, Words

Photo by Briliansy, I only retouched it and added text… and hey it’s on icanread!

Most of the times I’m this skeptic, apathetic person that visions life based on facts and reason, relies not on the taste and beauty but rather on the more logical science and statistics. What I need is not opinion but a concrete solution for those daily problems. But one thing I began to notice is that on happier times lately, like these holidays when pace of life goes calming and the need to hurry vanishes, the old romanticism in me blooms back inside:

The need to slow activities down, to be more attentive to our everyday little details, to take a seat and feel the flow of life around us. Killing time reading magazines, watching crappy romantic flicks, walking around the city with fellas and saying hello to the stray dog on the road… life ain’t grand, but the joy is all around us.



The lull of the evening
September 6, 2009, 2:22 am
Filed under: Personal

Night draws in, and I’m sitting silently in the Cititrans on my way to Jakarta, the beloved iPod is steadily delivering tunes from Copeland’s Eat, Sleep, Repeat. Hungry and alone in the darkness, the eerie piano from track 5 Love Affair starts straight to my ears.


Fell past a cheekbone hill to a piece of her floor,
The hope of the world in an awkward spill.
Oh, she’d lie on her bed and stare into harsh white light,
And think that her heart’s not right.


Getting darker as seconds pass by, I stare into the black outside.
Cars swish by with their headlights glaring. Flash and flash and flash.
The introspective loneliness of a night ride starts creeping up my spine, again.

Times like these, I could embrace those buried feelings, retracing what I have done and which path am I currently on as the result.

No company whatsoever, but maybe it’s alright…


‘Cause love took her hand like a thief,
took her heart like a robber
and the feelings that scare her become her relief.


I try to find full moon, but the whole sky is a black bowl emptied of its stars cereal.
I try to catch glimpses of raindrops, but the road is as dry as a feeling could be.


Just let me run where I want to run
Just let me love who I want.
Just let me run where I want to run
Just let me love who I want.


I end up staring plainly back into the unreal, relating to what the song could become, to my imagination.

And so I just repeat these singing words to myself


In a flash a heart is slain, you have to ask in all this pain
Was your heart too soft?
Was your love in vain?

Was your kiss too weak?
Were your eyes too tight?
And much too young to be in love,
Much too young to be in love?


“Life’s still long… plenty of things to catch ahead, but none of the silly immature love”
Who said it? No, it’s just my head consciously rephrasing the words to me.

It’s just the everyone’s Jakarta-Bandung. 200 km of nothing new to me, but now I understand how long lonely travels could redefine personality.


Just let me run where I want to run.
Just let me love who I want.
Just let me run where I want to run.
Just let me love who I want.
Just let me run where I want to run.
Just let me love who I want.

There are no rules for this love.
Just keep your head and don’t give up.
Like all the fools who play it smart.
Lose your head just for your heart
Just for your heart…


And so in the midst of darkness I drift into the land of dreams where reality could have been better.



Wandering patriotism
August 22, 2009, 10:55 am
Filed under: Personal, Philosophy, Thoughts

Forgive me founding fathers.

Forgive me founding fathers.

The introductory week was fine and the first real studying week was finer and I think it’s the best I could get for now but for the last two weeks one question has been bugging my head: is it bad to not be a nationalist? In the long introductory week all the seniors and lecturers on the seminars were all about “making Indonesia a better place to live” and everything. They said to not be an apathetic human but that’s exactly who I am now. Every time I do the Ganesha salute shouting “to god, nation and almamater” I have my silence on the first two stuffs and is it wrong to live with a passion only for ourselves? I really don’t care where this nation will be going unless it directly affects my life. I don’t vote. I guess I’m not a really nice guy to get along.