Wandering patriotism

by Kevin Aditya

Forgive me founding fathers.

Forgive me founding fathers.

The introductory week was fine and the first real studying week was finer and I think it’s the best I could get for now but for the last two weeks one question has been bugging my head: is it bad to not be a nationalist? In the long introductory week all the seniors and lecturers on the seminars were all about “making Indonesia a better place to live” and everything. They said to not be an apathetic human but that’s exactly who I am now. Every time I do the Ganesha salute shouting “to god, nation and almamater” I have my silence on the first two stuffs and is it wrong to live with a passion only for ourselves? I really don’t care where this nation will be going unless it directly affects my life. I don’t vote. I guess I’m not a really nice guy to get along.

Advertisements

18 Comments to “Wandering patriotism”

  1. well it’s just.. you. -___-

    • “It’s not me! It can’t be! It’s not you! I can’t do what I do if it’s you! This is not happening” haha (Y)

      • I’d silence on the two last if i were to do the Ganesha salute.

        it’s just.. me. o___o

        why should we do anything for the nation? want to make it better? from what? the rest other nations in the world? sounds like war, right?
        almamater is just as selfish and naive. first, if it’s about unity, then why dont they say “to humanity” instead? and anyway, almamater might not always be united.
        example : when we compete for job opportunities.

        • hemm, sori karena sudah nyempil kev, tapi kalo kata kakak gue yang jadi pengurus di himpunan penerbangan, yang orasi-orasi gitu nggak usah digubris ampe gimana gitu. Mereka yang ngomong tuh bukan para ketua himpunan, istilahnya… ketua himpunan mainannya nggak yang lapangan kayak gitu. Orasi, dll. Justru mereka yag suka koar-koar gitu ujung2nya jadi politikus, lulus tidak 4 tahun (dan bangga karena merasa makin gaul karena sudah lama), etc. Well, gue sendiri memilih untuk memasukkan ke telingan kanan dan keluarkan di telinga kiri. Ambil positifnya aja, memang ita harus sumbang sesuatu ke Indonesia tapi yaaa… kalau saya sih mainannya bukan dari orasi blah blah blah seperti itu.

          Yang susah itu kalo kayak kakak gue kev, dia kerja di PT. DI sekarang padahal belum lulus dari AE ITB, karena dia punya softskill dan IP nya selalu bagus gitu. Digaji cuma 2 jt per bulan. Oke kalo itu untuk dia hidup sendiri aja. Tapi nggak seterusnya dia bisa seperti itu kan? Nggak mungkin lo bsa ngehidupin keluarga cuma dengan 2 jt per bulan apalagi kalau tinggal di JKT. Tapi justru ada temennya yang nanya di FB begini, “Hey, Ilham, sudah sejauh mana kontribusi kamu untuk Indonesia?”. Nah, yang nanya itu dulunya jadi Menteri KM gitu, sekarang sih kerjanya di DPR gitu deh. Kakak gue agak kesel juga jadinya, ya dia jawab aja, “Kampret, gue tuh nggak ngomong doang ya, kalo iya, buat apa gue capek-capek ngasih ilmu gue buat PT. DI? Apa itu belum cukup dijadikan sebuah kontribusi bagi Indonesia? PT. DI men, satu-satunya yang memproduksi pesawat di Indo, sementara semua temen-temen gue lebih suka milih kerja di Honda yang gajinya lebih gede daripada gue.”. Well, that’s one of true stories

          tapi salam Ganesha itu seriously kadang bikin saya merinding. Saya loh kev, saya. Hehehehe.

          new post btw, : http://shekkung.blogspot.com/2009/08/one-that-is-important_23.html

        • @pewe well, at least the ‘almamater’ part consists of 3127 young hearts that (soon will) share the same hard years and aim for the same main goal, to graduate from ITB. whatever we might become in the later years is another story, hahah. ‘almamater’ is more real than ‘god’ or ‘nation’ to me.

          @sheyka woah kakak lo contoh baik warga negara Indonesia ya! itu jauh lebih baik deh daripada jadi anggota DPR, kalo gue jadi kakak lo sih udah langsung tergiur aja sama tawaran bergaji gede yang mampir haha. sudah baca post lo, filosofi hidup lo bagus ya bener deh, you go girl! πŸ˜€

          • haha yeah well, what real for me is me and what i think anyway.
            almamater still has the stench of nepotism for me. i saw it, it went on beyond those later years.
            oh and i was as skeptical in divinity as you too once dude. took me a couple of deaths.

            and yeah talking is for cheap fuckers. only goes so far as their tongue bends.

  2. awwwwww
    sepertinya saya akan terbiasa melihat banyak karakter-karakter unik di ITB.
    Memang bener ya, di ITB itu semuanya pintar, nggak ada yang bego, tapi ya itu, YANG ADA CUMA ‘WARAS’ DAN ‘NGGAK WARAS’. Tapi banyakan yang kayak gitu anak-anak STEI dan FTI, kumpulan orang-orang aneh. Eh, jangan salah tapinya, di ITB dikatain aneh, freak, dan cupu itu biasaaaa hohoho.

    well, at least, gue bersyukur, mendengar dari ceritanya si JUJUBA alias NADINE alias JUJU alias NISA (hohohohoh, bisa digampar gue kalo ketahuan dia nulis gini, tapi dia bangga loh, dengan nama NADINE nya itu haha) kalo lo…… tidak terlalu hedon (atau mungkin ‘nggak sama sekali’?)

    well, jujur aja, itu alasan UTAMA kenapa gue tidak memilih labschool LAGI untuk SMA. hem, no offense hahaha

  3. Kev. You should write for Indonesian Youth Conference’s blog. We need a different perspective.

  4. haha.
    salam ganesha emang berat, kev.
    sampe sekarang gw masih belum bangga jadi anak itb, gw belom menghasilkan apa”. boro” buat Tuhan, bangsa, dan almamater. buat membiayai diri sendiri aja belom T_T
    at least gw banyak belajar di sini.
    itb membuat gw sadar bahwa gw lebih suka sejarah dibanding ilmu pasti πŸ˜›

    btw, itu sheyka yg gw kenal bukan ya?

    • halo ka geb! kalo yg senior yg bilang belom ngerasa berbuat apa apa saya percaya deh, gimana taun taun depan ya.. tapi yg penting apa yg bisa dipelajari dari pertanyaan hidup macam itu, ya kan. biar waktu menjawab, hidup masih panjangg!

      • halo de kev!
        *karena lo menyapa gw dengan ‘halo ka geb!’

        weitts.. belum tentu hidup masih panjang kev..
        nikmati hidup dengan cara lo lah.. hahha..
        cara gw : belajar sampe mati
        *nggak lah, tampang kaya gw gini maniak belajar?! T_T

        • hahaha de kev, mirip mirip juga kok ka, intinya mau mencari pengetahuan seluas luasnya dalam bidang apapun deh. mengisi otak sepenuh penuhnya gitu. percuma kalo mati cuma dengan pengetahuan dikit tentang dunia, kan ya?
          eh iya link ya ka!

  5. sip. udah gw link.
    blog lo asik kev, blog gw mah ga jelas, ga ada latar belakang dan tujuan, ahaha.

  6. vin, ingat Tuhan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: