Merangkul sepi

by Kevin Aditya

 

Setiap siang menjelang, selalu tersirat ketukan lambat di pintu gudang rempah pemikiran. “Apakah derap harimu sudah melalui para pedagang dan pekerja yang menyala sejak fajar mendaki?” lirih ujarnya, tanpa retorika, tanpa nista yang acap tertera di antara kata. Dan dari terik mentari itu mata menggiat, meraup kemerlap petang yang tersisa di jejak langkah para pemetik pagi. Tanpa wicara yang minim makna, sambil menyadur mimpi yang tidak kunjung terpatri.

Hingga malam melingkup, pintu yang tertutup itu membisikkan ketuknya yang kedua. Namun tanpa terdengar sepatah kata. Karena kata mengantar dusta, dan jujur hanya bisa mengudara dari dalam jiwa. Karena surya memang tenggelam untuk memberi kontemplasi dalam gundahnya kelam. Di tengah kosong itu, tangan menggapai pelukan imaji yang kerap berganti. Di dalam hampa itu, hati mencari dan menafikan sunyi.

Advertisements

2 Comments to “Merangkul sepi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: